Serapuh Kaca


      
     Bandung, Desember 2014.
       Cakrawala terbelah dua, sebagian tampak cahaya keemasan menyalak, seolah membakar kegelapan yang sempat bertahta. Sebagian lagi tampak masih gelap. Pekat. Seolah masih ingin betah disana, berlama – lama dalam kesunyian malam.
       Tapi fajar dengan seenaknya bergulir menggantikan kepekatan itu.
 Disaat fajar yang indah mulai menyingsing, menapaki singgasananya, seorang laki-laki masih saja menatapi lukisan yang membuatnya mengingat masa lalunya yang kelam.

     Bali, Agustus 1996.
        Denting detik jarum jam terasa memekakan telinga. Sore itu, seakan waktu benar-benar menjadi tonggak yang mengukur perbedaan antara cinta yang dipaksakan dan cinta yang tumbuh tanpa undangan. 
“wanita didalam lukisan itu….disetiap lukisanmu….jadi….” syifa tak mampu melanjutkan kalimatnya,, air matanya berlomba-lomba untuk keluar.
“Aku mencintainya” Ari dengam seenaknya mengatakan apa yang tidak ingin didengar syifa.
“Maafkan aku, kamu tau itu, dari awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini”. Bagai air yang mengalir, kata-kata itu keluar dengan mulus dari mulut ari.Bak gemuruh dihati syifa, ia semakin menangis, meratapi ia tidak akan mendapatkan cinta dari suami sahnya sendiri.

    Bandung,Desember 2014.
        Ari masih saja menatapi lukisan itu, ia tidak lelah walau sejak semalam ia terus bergelut dengan masa lalunya.
        Ari kembali teringat dengan sosok wanita yang ada dilukisan itu. Ia memandangi wajah wanita didalam lukisannya,jari-jari lentik wanita tengah menari dengan gemulai. Ada senyum yang tersungging, meski begitu tipis. Tatapan mata wanita didalamnya begitu dalam dan yakin. Lukisan itu begitu indah.
        Dan diwaktu yang bersamaan ada kelebatan bayangan syifa, melintas dan mengundang rasa bersalah untuk menggantung hati ari.
        Teringat kembali pertengkaran hebat ditengan malam yang membuat hati ari panas. Syifa____istri sahnya____yang mengetahui bahwa ia mencintai wanita lain. Dan betapa bodohnya dia menyia-nyiakan wanita sebaik syifa,dengan rela melepaskan demi wanita yang tidak ia kenal.

     Jakarta,Februari 2009.
        Syifa terbaring lemah diruang ICU. Wajahnya tirus, pucat bagaikan mayat. Rambutnya rontok. Tubuhnya sangat kurus. Berbagai alat medis san selang-selang yang ari tidak mengerti fungsinya tampak menembus jaringan kulit syifa.
Suara parau syifa terdengar lirih,”Ari”.
Ari segera bangkit,mengeratkan genggamannya.”Iya, ini aku…syifa”
“Apa kamu sudah menemuinya?” tanya syifa. Bibirnya yang pucat dipaksakan untuk mengulas sebuah senyuman.
“Tidak syifa, aku ingin bersamamu bersama anak-anak. Aku sudah menerima keadaanya, aku menerima kamu dan anak-anak,kumohonbertahanlah syifa” jawab ari.
Air mata kepedihan menetes lagi “Ari”. “iya syifa”
“Kau tau kan, kalau aku mencintaimu?”
“iya,aku tau.Lantas?”
“aku ingin kau mencintai anak-anak dan wanita itu selayaknya aku mencintaimu”
    Ari menghembuskan nafas sesak.Semua kenangan berlomba-lomba untuk dikenang dan diingat kembali. Tanpa ada yang memerintah, ari mendekap syifa begitu erat, hingga ia dapat merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapat.
“syifa aku mencintaimu” bisik ari.pelan ditelinganya.
  Syifa kembali tertidur, sebuah senyum tipis tampak diwajahnya.Sangat tipis.
 Ari mengecup kening syifa dengan lembut,menahan sesak didadanya “selamat jalan syifa”
      Bandung, Desember 2014
         Ari masih sama, pada posisi yang sama, wajahnya kusut, tertekuk dalam, terlihat menyesali segala hal. Ari terus mengingat ulang kembali pertengkarannya dengan syifa, kemaraham syifa dan wajah pucat syifa dirumah sakit, seperti kaset rusak. Ari menyesali semua, menyesali mengapa ia mencintai wanita itu, mengapa ia tidak mencintai wanita yang telah sah menjadi istrinya. Wanita yang ikhlas tidak dicintai oleh suaminya sendiri walau dia benar-benar mencintainya.
        Tanpa sadar air mata ari perlahan jatuh, membasahi lukian yang masih dipegangnya. Ia tidak pernah menangis, tapi karna ia sadar bahwa dirinya terlambat mencintai istrinya, ia menangis.
         Matahari menanjaki singgasananya, tapi ari masih tetap terduduk rapuh. Ia tidak akan tau kapan cerita ini selesai dan kapan penyesalan ini berakhir. Tapi ari faham ini tidak akan berakhir jika dia tidak mau berdamai denga masa lalu. Masa lalu yang terlalu sulit untuk diajak berdamai….
  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *