Kebaikan Yang Sebenarnya

Kebaikan Yang Sebenarnya

        Terdengar decitan akibat dari gesekan roda dengan rel kereta. Seorang kakek berumur tujuh puluh tahunan berjalan diantara kursi penumpang kereta, langkahnya terhenti dan tangan kanannya menggapai pegangan besi yang biasanya di gunakan untuk penumpang dengan fasilitas tanpa tempat duduk. Kakek dengan rambut yang sudah memutih itu memandang tiketnya yang bertuliskan ”Penumpang Tanpa Tempat Duduk”. Seorang wanita yang duduk tepat di samping tempat berdirinya kaket  itu melemparkan senyuman ramah kepada sang kakek.Wanita dengan rambut hitam lurus sebahu itu menawarkan tempat duduk kepada kakek yang berdiri di sebelahnya,”kakek tidak mendapatkan kursi penumpang?.” Sang kakek menatap perempuan dengan rambut sebahu itu. ”Tidak,saya memesan tiket dengan fasilitas tanpa tempat duduk.” jawab kakek tak lupa dengan senyum ramahnya. Wanita itu berdiri sambil menawarkn kakek itu untuk duduk di kursi yang tadi di dudukinya. ”lebih baik kakek yang duduk di kursi ini,” ”Tidak,itu hakmu karena membeli tiket dengan tempat duduk.” tolak kakek itu lembut sambil menggelengkan kepalanya. ”Tidak.Saya sama seperti anda, memesan tiket tanpa kursi duduk.” jawab wanita berambut sebshu itu. Kakek itu tersenyum dan mengangguk tanda ia menerima tawaran wanita itu. ”Semoga orang yang duduk disini tidak ada.” ucap kakek sambil mentap perempuan yang berdiri di sebelahnya.wanita itu hanya balas tersenyum. Kakek itu memejamkan matanya sejenak menikmati udara yang masuk melewati jendela yang terbuka di sebelahnya. ”Masih berapa lama sampai di tempat yang kamu tuju?.” tanya kakek pada wanita itu. ”Masih lima jam,tapi tidaklama kok.” jawab wanita itu sambil terseyum.
       Matahari semakin menggelincir ke arah barat, menyembunyikan sinarnya. Para penumpng kereta terlelap karena lelah dan bosan dengan keadaan di dalam kereta. Seorang petugas kereta yang bertugas untuk memberi setempel pada tiket penumpang kereta berjalan diantra kursi kursi penumpang untuk melaksanakan tugasnya. Tiket demi tiket di stempelnya, hingga petugas itu sampai pada temat dimana duduknya kakek berambut putih yang telah lelap dalam tidurnya. Wanita itu mencegah petugas tersebut agar tidak membangunkan kakek yang tertidur itu. Namun, karena guncangan kecil yang terjadi di dalam kereta membuat sang kakek terbangun dari tidurnya. Kakek itu mengetahui maksud dan tujuan petugas tersebut. Sang kakek memberikan tiketnya dan petugas itu menerimanya dan memberi stempel pada tiket kakek itu. Wanita itu juga memberikan tiketnya dan petugas tersebut menerima dan langsung memeberi setempel pada tiket perempuan itu. Namun petugas tersebut diam sambil memandang tiket yang dipegangnya sambil membaca tulisan yang bertuliskan ”Penumpang dengan tanpa duduk”, petugas tersebut terkejut ketika melirik tiket yang di pegang kakek itu dengan tulisan yang bertuliskan ”Penumpang Tanpa Tempat Duduk”. petugas tersebut berbisik pelan kepada wanita yang berdiri di hadapannya ”Baik sekali anda, memberikan tempat duduk kepada kakek ini”bisik petugas tersebut. ”Mari saya antar ke gerbong depan, masih ada tempat duduk yang kosong untuk anda tempati lanjut petugas tersebut yang di balas anggukan oleh wanita berambut sebahu itu. Wanita itu maraih tongkat penyangga yang diletakkan di atas tempat penyimpanan barang untuk penumpang. Wanita tersebut berjalan di bantu denagn tongkat penyangganya. Semua orang terkejut melihat wanita berambut sebahu yang berjalan dengan tongkat yang di gunakannya untuk berjalan., bahkan kakek yang tadi ditawarinya untuk duduk di tempat yang duduki wanita berambut sebahu beberapa jam yang lalu terkejut melihat wanita berambut sebahu tersebut sambil tersenyum. Wanita itu menoleh kepada sang kakek, kaket itu tersenyum sambil berucap ”Terimakasih.” yang di balas anggukan oleh wanita berambut sebahu tersebut.
Kebaikan yang sebenarnya adalah ketika kita mengorbankan apa yang kita butuhkan kepada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *