Rasa Sakit yang Abadi

     Aku baru menyadari kesalahanku. Rasa bersalahku yang membuat dirinya menghindariku. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Karena pikiranku terus merasakan penyasalan, bahkan aku masih bermimpi tentangnya. Paginya, aku bertemu dengannya disebuah paviliun.
     “Sayang, aku menyesali perbuatanku yang telah lalu. Aku berharap kamu mau memaafkanku,” kataku lirih kepadanya.
     Namun dia terlihat cuek dan membalas perkataanku, “aku sudah muak melihatmu. Pergilah jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi.”
     Seketika hatiku sakit mendengar jawaban itu. Air mataku bercucuran melewati dagu dan akhirnya mendarat diatas tanah. Ternyata dirimu memang telah berubah. Aku sudah tidak bisa mengenalimu lagi. Kenangan kita bersama telah kau buang jauh-jauh dari pikiranmu.
     Aku telah menyia-nyiakan cintamu terhadapku sehingga membuatku berpaling darimu. Namun, ketika semuanya telah terlambat, aku baru menyadari kesalahanku. Itulah kesalahan besarku kepadamu.
     Perkataanmu membuatku sadar bahwa kebahagiaan kebersamaan kita dulu takkan bisa terulang karena keegoisanku. Kau tahu, selama kau mengisi hidupku, selama ini aku tak pernah merasakan sakit hati. Seandainya kau mau memaafkanku, bisa saja semua itu akan terulang untuk kedua kalinya.
     Sejak dia mengatakan itu, aku sudah semakin sadar bahwa rasa sakit yang kumiliki ini adalah sesuatu yang berharga yang tak akan terlupakan seumur hidup. Yang pasti, aku tak mau perkataan kasar yang bermaksud untuk menjauhiku dia ucapkan melebihi perkataannya pada hari itu.
     Unuk yang kedua kalinya aku bertemu dengannya distasiun. Ia menatapku sinis dan waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Aku mencoba memberanikan diri untuk bicara dengannya.
     “Kamu tahu, setiap langkah kaki kita selalu kurasakan dan kesedihan diantara kita yang menggores hati, semua itu adalah kenangan yang indah kita bersama. Kesalahan dan penyesalanku yang saat ini ku pendam amat berat untuk kulupakan karena aku takut kehilanganmu.”
     “Apa yang kaulakukan disini?!”, sahutnya sinis. “Aku sudah bilang kepadamu agar tidak menemuiku lagi, kan? Pergilah, atau kau akan tahu akibatnya!”
     “Aku tak akan pergi darimu sebelum hjan berhenti!”, tegasku. “Sampai kapan kau akan begini? Padahal aku sudah amat menyesali perbuatanku, tapi kau tak pernah mau menghargai perasaanku.”
     “Begitu juga dirimu yang dulu takpernah menghargai perasaanku. Biarlah kau tahu bagaimana rasanya dicampakkan kekasih.” Perkataannya itu membuatku sangat tekejut. Ia pun berlalu meninggalkanku ditengah hujan yang perlahan-lahan berubah menjadi gerimis.
     Namun aku berusaha mempersiapkan kata-kata terakhirku kepadanya sebelum ia jauh dariku, “ketahuilah, bahkan hingga sekarang aku masih mencari cahayamu!”
     Sayangnya dia terlihat tak memperdulikan perkataanku, hingga itu membuatku semakin merasa sakit jauh dilubuk hatiku yang paling dalam.
     Malamnya, aku tak bisa tidur. Aku masih teringat dengan kejadian itu dan juga wajahnya. Sangat jelas sehingga terlihat seperti nyata. Seperti Deja vu. Namun setiap ada hal yang membuatku teralihkan dari pikiran ini, itu menyadarkanku bahwa itu hanyalah khayalan. Hal yang tersisa dariku tentangnya hanyalah air mata.
     “Apa yang saat ini sedang kau lakukan, sayang?” Tiba-tiba tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu dengan penuh ratapan. Disisi lain, aku juga ingin tahu apa yang saat ini dilakukannya. Aku ingin mengirim email kepadanya, tapi aku tak berani. Sehingga hanya air mata yang terus keluar sepanjang malam itu.
     Aku menyenandungkan lagu kerinduan. Nada yang lambat sangat kuhayati, namun juga sangat menyesali.
     Dalam hati aku bergumam, “andai kau mendengar lagu kerinduan yang kunyanyikan ini, kuingin kau mengatakan ‘rindu’ kepadaku. Jika saat ini kau merasakan kesepian seperti yang kualami saat ini, ku berharap kau tak serapuh hati ini dan merasakan kesedihan yang teramat dalam.
     Untuk yang ketiga kalinya aku bertemu dengannya disungai. Saat itu dia tak menyadari keberadaanku. Aku menatapnya lama sekali, hingga aku memutuskan untuk berbicara dengannya lagi.
     “Hei, kamu masih mengingatku, kan? Aku adalah orang yang telah mengkhianatimu. Aku adalah orang yang telah menghancurkan perasaanmu. hanya ini pesan yamg ingin kusampaikan kepadamu. Kumohon, hapuslah kenangan tentangku dari dalam lubuk hati terdalammu. Ini adalah permintaan lubuk hati terdalamku. Aku sudah banyak belajar darimu bahwa keegoisan adalah jalan pintas terburuk untuk sampai ke kebahagiaan. Malah keegoisan itulah yang akan menuntun kita menuju kehancuran. Terima kasih sudah mau hadir dihidupku. Terima kasih sudah bersabar untukku. Aku berjanji setelah ini aku tak akan mengganggu langkahmu, walaupun hingga sekarang kau masih menjadi cahayaku. Terima kasih sudah banyak berbuat baik kepadaku. Aku sungguh mencintaimu,” lirihku sambil meneteskan air mata. Aku berusaha tersenyum dengan tulus walaupun rasa sakit dihatiku masih amat sulit untuk kulupakan.
     Perlahan-lahan senyum kecil terukir diwajahnya. Akhirnya ia mau menghargai perasaanku walau saat ini saja. Aku pasti akan mengingat senyuman itu, senyuman yang selalu kurindukan.
     Selama ini aku tak pernah menduga bahwa rasa cinta yang ada dalam hati kita bisa menciptakan sebuah penyesalan yang lebih berat darinya. Walaupun kita berdua selalu bersama, namun aku tak pernah menyadari perasaan itu. Aku takkan bisa lupa dengan rasa sakit ini dan aku paling memahaminya. Seperti potongan cinta yang terbagi dan tak pernah kembali lagi.


                                                                                                                                      Paciran, 14 September 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *