Bendungan Rahasia

BENDUNGAN RAHASIA

     Teng teng teng…….
     Sayup – sayup kudengar bel sholat ashar berbunyi, dengan rasa kantuk yang masih melandaku dikarenakan tidur siangku. aku bangun dan segera mengambil air wudhu lantas melangkah kan kakiku kemasjid bersama teman sekamarku.
     Sholat ashar dan kegiatan setelahnya telah usai dan sekarang adalah waktunya seluruh santriwati untuk bersantai ria, ada yang mengantri mandi, ada yang nyuci, ada yang piket bersih – bersih, dsb. karena memang itulah kegiatan seorang santriwati dipondok
     Ya, aku adalah santriwati pondok pesantren darussa’adah yang bertempat di pelosok desa jawa timur sedangkan aku berasal dari riau. mungkin bagi kalian sangatlah jauh namun, memang itulah kenyataannya dalam menuntut sebuah ilmu. meskipun jauh dari orang tua namun, putus asa tak pernah terfikir dalam benakku. namaku adalah elfira safa biasa dipanggil fira, aku duduk dibangku kelas 3 SLTP.
     Kembali dikegiatan pada sore hari dipondokku. aku memilih pergi kewartel untuk menelepon kedua orangtuaku, karena rasa rindu yang telah melandaku,aku pun mengantri.hingga tibalah pada antrianku aku masuk ke bilik wartel yang kosong, aku mulai memencet angka – angka yang ada pada telepon hingga berkali – kali namiun nihil, hanya ada suara operator yang menyahutnya. dengan terpaksa, akupun mengakhiri acara meneleponku dan memberikan hp tersebut kepada ustadzah yang menjaga wartel tersebut. dengan lantai lesu dan gontai aku pun kembali ke kamarku. namun belum sampai tiba dikamar, aku menemukan secarik kertas lusuh yang ada di dalam dompetku. dalam kertas tersebut tertulis nomor pak RT didesaku yang mana beliau juga adalah pamanku. dengan senang hati aku kembali lagi ke wartel dan mencoba mnelepon nomor yang tertera dikertas tersebut. 5 menit berlangsung dan panggilan telepon tersebut terhubung.

aku       : assalamu’alaikum paman
paman  : waalaikumussalam. maaf ini siapa?
aku       : halo paman ini aku fira keponakan paman
paman  : oh iya fira.apa kabar kamu nak?
aku       : alhamdulillah paman, fira baik – baik saja. bagaimana keadaan paman dan bibi?
paman  : alhamdulillah nak, kami baik – baik saja. apa ada kepentingan hingga kamu menelepon                           paman?
aku       : begini paman, tadi fira menelepon papa dan mama. namun hasilnya nihil paman. nomor                         yang fira hubungi tidak ada yang aktif.
paman  : begini nak, mungkin orangtua fira lagi sibuk, maka dari itu mereka tidak mengangkat                             telepon dari fira.
aku       : yasudahlah paman, titipkan salam fira buat mereka dan sampaikan kepadanya bahwa                             besok waktu liburan fira pulang menggunakan konsulat dan tempat penurunan berada                           dibalai kota. sampaikan pada mereka agar datang menjemput fira.
paman  : baiklah nak, akan paman sampaikan. ya sudah paman tutup dulu ya teleponnya.                                        assalamu’alaikum.
aku       : baiklah paman, waalaikumussalam.

     Dengan perasaan lega bercampur senang, akupun kembali ke kamar dan mulai melaksanakan kegiatan yang berada dipondok.
liburan semester pun tiba……….
5 menit… 10 menit… 15 menit….
aku menunggu kedatangan papa dan mama untuik menjemputku. hingga dari kejauhan aku melihat sepeda motor butut yang mulai mendekat kearahku. dan dialah pamanku.

aku       : lho paman, kenapa paman yang menjemput fira? kenapa bukan papa sama mama?
paman  : fira sayang, papa sama mam mu sedang sibuk, mereka tidak bisa diganggu. maka dari itu                       paman yang menjemputmu. mari nak naik motor paman dan kita pulang.
(dengan lesu aku pun menjawabnya dengan sekali anggukan)

     Motor butut ini pun melaju dengan lambat.maklum karena motor ino telah berumur. harapanku pupus seketika mengingat bahwa papa dan mama yang menjemputku dengan menggunakan mobil lamborghini berwarna putih kesayanganku. namun itu hanyalah harapan semata. Hingga tiba disebuah gang kecil dengan pagar yang cat rumahnya sudah terkelupas. aku pun bingung kenapa paman malah mengajakku kerumahnya. aku pun mengikuti langkah kaki paman karena aku pun telah lelah dan ingin segera beristirahat.

paman  : fira, menginap disini dulu ya nak. soalnya bibi mku sangat rindu. kan fira nggalk pernah                         pulang.
aku       : iya paman.

     Hari beragnti hari yang kulakukan tiap hari adalah membantu bibi ku memasak, menyapu, mengepel, dan membantu apapun yang dilakukan oleh bibi ku. hingga suatu hari, saat paman berada diteras depan rumah sambil membaca koran dan biobi datang sambil membawakan secangkir kopi, aku pun menghampiri mereka.
aku      : paman, bibi, fira pengen pulang. fira sudah disini selama 10 hari fira kangen papa mama                         sama adek fira. (sambil nunduk dan bersedih)
paman dan bibiku menghela napas, dan aku pun mulai menyadari ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku dan bibi pun berkata

bibi     : baiklah fira, kami akan mengantarkan mu ke papa mama sama adek mu.

     20 menit dalam perjalanan dan tibalah pada suatu tempat namun,bukan rumah yang ku lihat melainkan sebuah pemakaman. mereka seakan mengerti kebingunganku. mereka menuntunku ke 3 baris kuburan yang membuatku merasakan pilu. dalam batu nisan tersebut terpampang nama papa mama dan adek ku. aku pun kaget dan langsung luruh di atas gundukan tanah pemakaman, aku pun menangis sejadi – jadinya. paman dan bibi ku menenangkanku dan mereka pun mulai menceritakan kepadaku tentang kejadian yang menimpa keluarga ku.

paman  : nak, kamu yang sabar ya, tabah atas semua yang menimpamu. seminggu sebelum kamu menelepon, rumahmu dilanda kebakaran yang sangat besar dan dengan ganasnya api tersebut merambat dengan cepat dalam rumahmu, hingga akhirnya merenggut 3 nyawa   keluargamu.

Aku pun menangis lagi dan dalam hati aku mulai mengikhlaskan kepergian mereka dan segera memanjatkan do’a untuk mereka.

“ya Allah, kenapa berlian dalam hidupku dengan bertubi – tubi Engkau panggil, dengan keadaanku yang jauh dari mereka Kau hadiahkan kabar ini untukku. ku mohon sematkan orang – orang yang kucintai ini di Sisimu ya Allah, lancarkanlah jalan mereka menuju jannah-Mu dan kuikhlaskan mereka jika memang ini yang terbaik. Dear Keluargaku aku sangat merindukan kalian”.
Setiap yang bernyawa akan merasakan apa yang namanya kematian. meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kematian dengan ribuan dokter dan triliuan rupiah untuk mencegah kematiannya, maka tidak akan pernah bisa. mengapa demikian? karena, kematian itu adalah sebuah ketetapan yang sudah digariskan oleh Allah Azza wa jalla kepada siapapun makhluk yang berjiwa.
Paciran, 14 September 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *