Perdana, Tercatat dalam Sejarah

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Mengingat begitu pentingnya budaya literasi di pesantren. Maka kami hadir, untuk memberikan wadah dan kesempatan kepada santriwan dan santriwati, yang berminat dalam hal dunia literasi. Baca dan tulis.

Ini semua untuk mengembangkan minat dan bakat santri. Penulisan karya, terlepas, apakah itu cerpen, novel, esai, puisi dan curahan serta curhatan, sebenarnya adalah bagian bentuk dari penulisan sejarah santri itu sendiri.

Dengan menulis, santri akan menulis sejarahnya, mengenal dirinya, mengetahui kemampuannya, sejauh mana, perkembangan pengetahuan dan ukuran hasil yang dicapai di pesantren ini.

Ada istilah yang cukup populer. Dog – dog ser. Atau rog-rog asem. Tahu pohon asem kan? jika di-rog, atau digoyang, dengan tujuan untuk mengambil buahnya, sekali digoyang jatuh buanya, tapi yang perlu saya tekankan bukan masalah mengambil buahnya. Tapi sikap nge-rog (baca : menggoyang), itulah yang penting. Karena ngerog atau membuat pohonnya bergoyang, tidak sepenuhnya terus menerus. Oleh karena itu, janganlah semangat menulis kita seperti itu, seperti rog-rog asem. Kadang ya, kadang tidak.

Kata yang tepat dalam kunci menulis adalah istiqomah. Terus menerus menulis, di mana saja, diketik atau ditulis dengan pena, kapan saja, baik ide datang atau belum datang. Maka menulislah terus menerus. Selanjutnya lihatlah setelah satu tahun, baca kembali tulisanmu. Kamu akan menemukan keajaiban, goresan tinta, kumpulan kata dan makna. Kamu akan merasakan menemukan kembali, jiwamu. Kamu akan lebih bersemangat dalam mengoreksi dan memberikan komentar.

Itulah yang akan kita capai dalam latihan penulisan ini. Yaitu  menemukan kita kembali setelah waktu yang lama telah lewat. Mari menulis. Sehari seutas benang, setahun sebentang kain.

Salam Literasi.
Aqil
Paciran, 18 Nopember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *